Saat frustasi datang karena harus bekerja dengan expat ..

Pernah frustasi berkomunikasi dengan expat? Di dunia jaman sekarang sepertinya kebanyakan dari kita pernah berinteraksi sedikit banyak dengan orang non-Indonesia. Bahkan sekarang banyak perusahaan lokal mulai mempekerjakan beberapa WNA untuk beberapa kompetensi yang memang tidak (atau belum) dimiliki oleh orang Indonesia.

Nah, pasti banyak tuh cerita-cerita lucu ataupun hal yang bikin frustasi selama kita berinteraksi dengan mereka. Tapi apa pernah berpikir bahwa mereka juga sebenarnya juga ‘frustasi’ bagaimana bisa berkomunikasi dan membuat kita (baca: orang Indonesia) mengerti (dan mau melakukan) apa yang mereka maksud dalam hubungan kerja.

Disini saya berbicara tentu saja diluar konteks penggunaan bahasa. Kalau hanya sekedar berbicara Bahasa Inggris – itu mudah, tapi seringkali hal-hal yang membuat frustasi saat kita harus berinteraksi dengan expat itu adalah justru mengenai konflik budaya. Beberapa kebiasaan kita yang menurut saya, sering menjadi hal yang salah kaprah bagi para expat sehingga mengakibatkan konflik budaya dalam hubungan kerja:

1.     Orang Indonesia melepas stress dengan tertawa

Saya pernah mendengar bahwa ada seorang expat yang BT karena disaat break meeting yang topiknya membicarakan mengenai hal yang sensitif dan memusingkan, dia melihat sekelompok senior manajer malah justru asik merokok sambil bercanda ria tertawa lepas. Terbayang yang ada di pikiran dia – bagaimana bisa bahwa di keadaan yang sedang ‘genting’ ini orang Indonesia bisa tertawa terbahak-bahak ? apakah mereka tidak merasakan sense of crisis?

Mungkin si expat tadi tidak sadar bahwa itulah cara orang Indonesia melepas stress dengan cara bercanda, tertawa. Bahkan saat negara kita ‘terancam’ oleh bom teroris – yang seringkali muncul adalah meme lucu yang viral, cerita tukang sate yang lebih memilih diam di tempat karena takut rombongnya digaruk oleh satpol, selfie saat terjadi adegan tembak2an. Tidak masuk di akal memang – tapi itulah cara kita untuk menghibur diri saat dirundung stress. Saya jadi ingat satu insight dari ayah saya, bahwa mungkin hal ini diakibatkan karena jaman penjajahan dulu, bangsa kita begitu ditekan oleh penjajah sehingga rakyat jelata tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu muncul karakter seorang ‘Mbok Emban’ lah di pagelaran pewayangan yang segar, lucu, dan selalu ditunggu-tunggu karena hidup saat penjajahan hanya bisa dibawa tertawa untuk mengurangi pedih yang saat itu dirasakan.

2.     Dunia tidak pernah ‘black and white’ bagi orang Indonesia

Pernah dengar pepatah salah kaprah ‘peraturan itu dibuat untuk dilanggar’? Secara tidak langsung hal ini akanlah sangat membingungkan untuk expat. Karena di negara maju, saat ada peraturan maka itu merupakan harga mati yang harus diikuti oleh semua orang dan konsekuensinya melanggar itu jelas tidak bisa ditawar. Sedangkan di Indonesia, peraturan seringkali memiliki pasal yang karet sekaret-karetnya. Stop sign dijalan ? Area dilarang merokok ? Tunjukkan STNK saat keluar parkiran ? Meeting jam 5 orang baru mulai hadir jam 5.30. Mengerti khan maksud saya ?.

Bayangkan bagaimana jika budaya tersebut masuk ke dunia bekerja. Bahwa sang expat akan bingung senantiasa jika dia set deadline hari Senin tapi tugas yang diminta baru dikirim Selasa pagi. Dia sudah datang jam 5 tapi acara baru dimulai jam 6 dengan alasan ada kemacetan luar biasa diluar sana. Membingungkan bukan?

Nice reference on culture from HBR articles on To Lead Across Cultures, Focus on Hierarchy and Decision Making

3. Budaya kita adalah budaya yang cenderung ‘santai’

Pernah pergi keluar negeri? Jika dibandingkan kecepatan orang Indonesia berjalan kaki dibandingkan dengan orang non-Indonesia, hampir bisa dipastikan kita akan kalah. Karena dari kecil jika kita terburu-buru dan cenderung cepat dalam melakukan apa pun, banyak orang justru balik bertanya ‘mau kemana sih kok buru-buru? Udah disini aja dulu ngobrol dan ngaso. Karena memang pada dasarnya tinggal di Indonesia itu memang enak, bahwa semua hal (bahkan kemiskinan) itu merupakan hal yang harus disyukuri, semuanya pasti ada ‘untungnya’. Di satu pihak hal ini baik karena menjadikan kita bangsa yang cenderung jauh dari kata stress, selalu berpikir positif, bersyukur atas segala hal, dan menyerahkan hidup kepada Tuhan YME.

4.     Yes don’t always mean Yes – and No can be Yes

Pernah melihat bos expat berbicara ke sekelompok orang Indonesia untuk memberikan satu instruksi dan melihat banyak orang mengangguk-angguk ? Dilihat dari sisi sang expat, anggukan artinya mengerti, bukan? BUKAN! Semua orang Indonesia pasti faham bahwa anggukan dari orang Indonesia bukan selalu berarti mengerti atau faham. Tapi merupakan pertanda bahwa hal yang dibicarakan sudah didengar saja.

Sebagai bangsa yang cenderung sangat sopan, maka anggukan seringkali kita artikan sebagai tanda penghargaan vs. tanda persetujuan. Dan dengan budaya kita yang cenderung apapun bisa dilakukan, kadangkala hal-hal yang seringkali disangka mustahil dilakukan di awal – ternyata bisa terjadi. Bayangkan kebingungan orang yang tidak mengerti budaya ini. Bagaimana lalu batasan antara hal-hal yang bisa dilakukan atau tidak? Membingungkan bukan?

5. Kita adalah bangsa yang berkomunitas dan kolektif secara ekstrim

Dari jaman dahulu kita sudah dilahirkan sebagai bagian dari komunitas yang memiliki hierarchy. Entah itu komunitas RT/RW, Arisan keluarga besar, atau apalah namanya. Coba hitung ada berapa Whatsapp Grup komunitas yang kita bergabung. Dari kecil pun sudah ditanamkan slogan-slogan yang berbau kolektif seperti ‘Berat sama dipikul ringan sama dijinjing’ , ‘Musyawarah untuk mufakat’. Konsekuensinya ? Konsep gotong royong itu dan bersama-sama itulah yang membuat Indonesia kuat dan jaya. Tak heran jaman penjajahan dahulu hanya konsep devide-et impera yang berhasil merontokkan kekuatan kerajaan di Indonesia.

Kalau begitu, bagaimana aplikasinya di dunia kerja? Saat kita bekerja berkelompok, maka seringkali sulit mengidentifikasi siapa sebenarnya yang menjadi penggerak satu kelompok. Demikian juga sulit sekali untuk mencari bibit pemimpin karena semua orang berlindung dibalik atas nama kelompok. Menonjolkan diri secara individual sedikit banyak merupakan hal yang tabu dan cenderung masuk kategori diartikan sombong oleh sesama. Tidak heran jika relatif agak sulit mencari kader pemimpin di Indonesia.

Namun, kembali lagi ke dunia kerja – bayangkan jika anda menjadi bos (terlebih expat). Gimana tidak pusing jika semua pegawai anda cenderung santai dan tidak memiliki sense of urgency ataupun fear of loosing their jobs. Karena ketidak mengertian mereka itu maka style leadership yang keluar akhirnya cenderung controlling, detail, cenderung tidak percayaan dengan perkataan kita, dsb dsb yang akhirnya membuat kita ngomel karena merasa tidak dipercaya dan mengutuk expat leaders secara habis-habisan.

Jadi kalau saat ini anda membaca artikel ini sambil mengaminkan beberapa situasi yang dialami diatas – apa yang bisa kita lakukan secara pribadi untuk meminimalisasi konflik budaya ini supaya hubungan dengan sang expat menjadi lebih lancar ?

1.     Less Baper, please!

Hilangkan asumsi, jangan mengambil semua perkataan sang expat dan dimasukkan dalam hati. Ingatlah bahwa mereka memiliki standar yang berbeda dengan kita. Biasakan untuk klarifikasi semua perkataan dia. Jika anda mulai berkata ‘harusnya dia sebagai bos khan tahu..’ nah itu ciri-ciri anda terlalu berasumsi. Lakukan klarifikasi bahkan jika itu artinya harus mengkonfrontasi dia ataupun bertanya ttg stupid questions. Ingatlah bahwa expat cenderung lebih menghargai konflik terbuka dan langsung diutarakan didepan mereka. Mereka cenderung tidak akan sakit hati jika berhubungan dengan dunia kerja karena mereka benar-benar memisahkan antara dunia kerja dan dunia personal.

2.     Re-define Respect

Banyak hal yang kita definisikan sebagai bentuk rasa ‘hormat’ terhadap atasan expat kita – tapi jatuhnya malah membuat kita jadi sakit hati sendiri dan merasa bahwa kita di-injak-injak oleh mereka (victimized culture). Oleh karena itu, hilangkan hirarki saat berhubungan dengan expat, tapi definisikan kembali bagaimana bentuk rasa hormat yang sewajarnya bisa diterima oleh bangsa expat tersebut. Tidak lain tidak bukan , seringkali komunikasi terbuka secara langsung di awal hubungan kerja merupakan hal terbaik untuk menyepakati ways of working yang bisa diterima oleh culture kedua belah pihak.

3.     Understand that there are global principles that (like it or not) we have to follow

Sadarlah bahwa ada beberapa hal yang memang sudah menjadi prinsip global yang memang harus dihormati saat kita berinteraksi dengan semua orang tidak peduli bangsa apapun seperti contohnya prinsip menghargai tepat waktu ataupun komitmen terhadap janji yang sudah kita ucapkan. Bahwa pada dasarnya ada beberapa hal yang sudah terlanjur salah kaprah (seperti kecenderungan kita melanggar peraturan) yang harus mulai kita ubah. Dimulai dari diri kita sendiri.

4.     Think on what we’re good at to build our own confident individually

Jadi apakah kita selama berkomunitas dan berkolektif itu salah? Belum tentu juga – banyak juga manfaat dari berkomunitas dan berkolektif yang pastinya menjadi hal yang diidam-idamkan oleh bangsa lain. Dari kolektif itu sebenarnya lebih banyak hal yang bisa dicapai, dan rasa tanggung jawab itu ditanggung renteng beramai-ramai. Orang Indonesia juga sebenarnya sangat jago kalau sudah urusan melakukan, kita percaya bahwa ‘sedikit bicara banyak kerja’ Sehingga yang diperlukan sebenarnya adalah seorang pemimpin yang mengerti bagaimana memainkan kartu sehingga sisi kolektif dan budaya melakukan (vs. budaya debat) bisa menjadi hal yang menguntungkan sang pemberi kerja.

Nah bagaimana .. sudah siap untuk lebih mengerti dan memahami rekan kerja expat anda? setuju ? tidak setuju? kenapa? ditunggu dong komennya dibawah .. 🙂

A hopeful enthusiast and a burst of energy. Loving my role as #emakbekerja doing corporate HR working in alignment of her purpose of creating better Indonesian leaders. When not working, I enjoy crafting for my toddler, or weekly reflexology massage with my husband. Let’s connect on Twitter at @ierinda

Berlatih seni mengukur diri di sesi rekrutmen FGD

Dalam proses rekrutmen, sesi FGD (Focus Group Discussion) bisa dibilang adalah andalan dari perusahaan. Karena di sesi FGD adalah cara paling mudah untuk meng-eliminasi pelamar kerja (yang biasanya masih di tahap early jobbers) di tahap awal. Tapi sayangnya, hampir tidak ada instansi pendidikan yang memberikan pembelajaran mengenai bagaimana mempersiapkan murid-murid mereka dalam menghadapi FGD ini. Sehingga kadang saat saya berbicara dengan mereka – banyak dari mereka yang mendapatkan ilmu menghadapi FGD ini dari turunan perkataan temannya (a.k.a ilmu ‘katanya’) atau asumsi ( a.k.a ilmu ‘saya pikir’ ) yang dengan mudah sebenarnya bisa dikategorikan menjadi ilmu hoax jika konteksnya tidak tepat. Oleh karena itu, saya iseng ingin menuliskan beberapa ilmu hoax yang saya pernah dengar mengenai ilmu FGD

  • Hoax 1 : lebih baik jadi orang yang berbicara pertama

Membuka FGD dengan jadi orang yang berbicara pertama memang baik, pastinya diri kita mendapatkan nilai plus dimata panel pengamat, tapi kalau hanya sekedar membuka tanpa memiliki pendapat yang berbobot itu akan dengan mudah juga dilupakan oleh panel pengamat.

  • Hoax 2 : Leader = moderator

Hampir sama dengan ilmu hoax no 1, banyak orang mengartikan leader di FGD = moderator yang memastikan bahwa semua orang itu berpendapat dan didengar. Hati-hati bung, ini adalah proses rekrutmen dimana panel pengamat pastinya ingin tahu apa sih pendapat kamu sebagai individu. Jangan cuma berlaku sebagai fasilitator / moderator saja yang malah jadinya substansi dari pendapat kamu malah tidak muncul.

  • Hoax 3 : harus aktif dan banyak berbicara

Jika kamu mengartikan bahwa siapapun yang akan diterima adalah yang paling banyak berbicara alias paling banyak SOV (Share of Voice), mungkin pendapat itu bisa dikategorikan sebagai hoax J Kemampuan untuk aktif dan banyak berbicara itu hanyalah indikator dari seseorang yang mungkin tipenya adalah agresif atau ekstrovert. Jika kebetulan itu adalah kriteria utama yang diperlukan di suatu pekerjaan tertentu, mungkin itu adalah benar. Tapi tidak semua orang harus menjadi agresif dan ekstrovert untuk menjadi leader. Banyak pemimpin yang mumpuni di dunia kerja adalah orang-orang yang justru tidak banyak berbicara tapi sekali mereka berbicara maka mereka didengarkan oleh teamnya. Demikian juga dengan ilmu yang bisa diterapkan di FGD. Tidak semua orang harus menjadi ekstrovert kok.

Oleh karena itu, menurut saya ilmu ikut FGD itu adalah ilmu yang susah-susah gampang. Susah karena sedikit banyak tidak bisa diprediksi arah diskusi dan dinamikanya nanti akan seperti apa, namun gampang karena sebenarnya modalnya adalah keyakinan akan diri sendiri (baca : PD alias Percaya Diri)

Namun, berdasarkan pengalaman saya menyaksikan ratusan FGD untuk rekrutmen dengan dinamika yang berbeda-beda, berikut beberapa hal yang bisa saya simpulkan :

  • Scan your environment

Sebisa mungkin kenali siapa team satu grup FGD kita, dan prediksi siapa yang kira-kira akan menjadi orang yang tipe agresif, pasif, siapa yang sudah punya banyak pengalaman, sehingga kita bisa memperkirakan dinamika seperti apa yang akan terjadi di FGD rekrutment yang akan terjadi

  • Feel the dynamics and bring your own weather

Kadang dinamika team begitu cepat, begitu keras, atau bisa juga begitu lambat dan sangat sunyi. Jadilah dirimu sendiri dan kendalikan ‘cuaca’ yang kamu inginkan. Saat banyak orang berdebat tidak kunjung usai, jadilah penengah yang bisa mendamaikan. Sebaliknya jika diskusi sangat sunyi, lontarkan ide-ide orisinal yang bisa menjadi bahan pokok diskusi selanjutnya. Tetap fokus pada objektif yang diberikan untuk FGD dan sesuaikan dengan batas waktu & guideline yang diberikan.

  • Substance is king

Pada akhirnya, panel pengamat akan memperhatikan content/isi dari ide yang dikemukakan oleh para kandidat. Pastikan pendapat kamu berbobot dan memang ada isinya dilengkapi dengan data pendukung dan bukan hanya berupa opini tanpa bukti. Pada akhirnya disinilah diperlukan level ke-PD an yang memang harus cukup karena kemampuan mengolah data dan mengemukakan pendapat tidak bisa datang begitu saja tanpa dilatih sebelumnya.

  • Silence is (NOT) golden

Kadang saya suka bingung ada partisipan FGD yang saya lihat dari CV harusnya banyak bisa berkontribusi namun justru saat FGD tidak berbicara apapun. Pada akhirnya panel pengamat bukanlah cenayang yang bisa membaca apa yang ada di pikiran kamu. Satu-satunya cara untuk dapat memberikan penilaian yang berimbang adalah dengan mendengarkan apa ide/pendapat yang dikemukakan diatas meja. Malu/takut salah bukanlah alasan untuk tidak berbicara satu kalimatpun. Pada akhirnya, apa sih yang paling jelek yang bisa terjadi? Tidak diterima kerja? Ya sudahlah.. pada akhirnya tidak semua juga akan bisa diterima juga khan? Tapi paling tidak – kamu sudah berhasil mengalahkan dirimu sendiri dengan tidak takut malu & berani salah dalam mengemukakan pendapat. It’s okay to be wrong, forgive and move on…

Pada akhirnya, semuanya itu tidak ada ilmu pastinya. Dan rasa PD itu juga tidak bisa di bangun dalam satu atau dua hari persiapan mencari pekerjaan. Yang bisa dilakukan adalah cari tahu apa yang harus dilakukan dan ketahuilah konsekuensi dari setiap hal yang kita lakukan di proses seleksi pekerjaan. Just be authentic and build yourself better everyday.. karena pada dasarnya proses seleksi mencari kerja itu hanyalah satu hari sementara proses manusia bekerja itu tidak akan pernah berhenti.

 

Artikel ini pertamakali muncul di profile Linkedin dari penulis

Let’s Love More and Judge Less : catatan seorang wanita bekerja untuk wanita lainnya di hari wanita sedunia

Pagi ini saya ke Pasar Modern BSD sebelum ke kantor untuk seperti biasa ke warung kopi langganan saya. Sembari menunggu kopi diseduh saya memperhatikan sekelompok ibu-ibu yang sedang asyik bercengkerama dan bersenda gurau dengan lepas. Melihat pemandangan itu terbersit di pikiran saya sedikit rasa campur aduk mungkin antara iri, sinis, sirik, sesaat sebelum saya tersadar dan mencoba melawan pikiran negatif tersebut.

Ya, iri karena saya adalah wanita bekerja yang harus masuk kantor secepatnya. Sirik karena terpikir kenapa saya tidak bisa menjadi ibu RT yang (sepertinya) bisa tertawa lepas di pagi hari jam 8. Perasaan sinis karena (sok) merasa bahwa saya lebih (sok) penting karena saya (sok) punya harga diri lebih karena bekerja.

Kopi sudah dibeli dan saya melangkah lagi ke sebuah kedai lain buat beli roti srikaya (iya, bekal sarapan ke kantor saya banyak hehehe), saya melihat lagi seorang ibu yang asyik duduk melihat HP dengan anak balita dan susternya yg lagi heboh menjaga supaya si anak tidak jatuh karena sedang berdiri di meja. Dan sekali lagi pikiran (buruk) saya melintas dan menyalahkan si ibu yang kurang berbagi peran dengan sang suster. Tapi saya kemudian menyadari dan segera menepis anggapan saya cepat-cepat.

Setelah dua kejadian tersebut saya merenung bahwa sepagi ini saja betapa mudah saya sebagai seorang perempuan menjatuhkan stereotype/judgment kepada sesama perempuan hanya dengan melihat sekelumit adegan kehidupan tanpa mencoba memahami apa cerita dibalik ibu-ibu tadi. Padahal dari semuanya, sebagai sesama perempuan (dan sesama ibu-ibu) harusnya sayalah yang paling berempati terhadap sesama perempuan dan bukannya malah menambah keruh perbandingan tak kunjung akhir antara ibu bekerja vs. ibu rumah tangga. Bahwa kita semua sudah memiliki tempatnya masing-masing di masyarakat tanpa harus memiliki stigma apapun yang melekat di pilihan apapun kehidupan kita.

Mungkin saja sekelompok ibu-ibu tadi banyak yang berprofesi sebagai pemilik bisnis online, penulis blog, atau pekerja yang masuk di siang hari dan kebetulan saja menghabiskan waktu pagi hari mereka di kedai kopi. Mungkin saja si ibu dari anak balita yang saya lihat tadi semalaman begadang karena anaknya bangun tengah malam dan rewel sehingga dia memilih untuk menyerahkan pengasuhan 100% ke susternya di pagi ini sementara dia rehat sejenak menyeruput kopi.

Betapa mudahnya kita men-judge orang berdasarkan apa yang kita lihat dari luar atau bahasa kerennya memiliki unconscious bias. Perilaku ini muncul secara tidak sadar karena kita menilai orang berdasarkan asumsi dan bukan fakta. Jika tidak kita sadari, maka perilaku ini akan memunculkan stereotype-stereotype yang seringkali salah dan saya yakin kita sendiri bahkan mungkin pernah menjadi korbannya.

Stereotype lead to prejudice and prejudice leads to discrimination. Stereotype hold people back,damage society and destroy brands (The Unstereotyped Mindset – Study Unilever, January 2017)

Bayangkan betapa tidak nyamannya jika orang melihat anda sudah dengan label-label tertentu yang menurut anda belum tentu benar. Bahwa perempuan tidak bisa bekerja di bidangnya  ‘laki-laki’, bahwa laki-laki pasti tidak sensitif, bahwa Gen Y tidak becus memimpin yang lebih tua, bahwa orang batak pasti bersuara keras dan orang jawa lemah lembut, dan masih banyak lagi. Saya yakin kita semua pernah mengalami saat dimana kita sudah dilabel hal tertentu yang pada akhirnya orang memiliki persepsi yang salah tentang kita dan mengakibatkan kita harus melepaskan kesempatan yang seharusnya bisa menjadi milik kita.

So, pada akhirnya jika kita sendiri tidak mau diberikan label yang salah, ada baiknya juga jika di momentum International Women’s Day yang jatuh pada hari ini (8 Maret) kita semakin mengkontrol pikiran, stigma dan persepsi kita dengan mengecek semua fakta yang ada sebelum melakukan apapun untuk memiliki paradigma baru dalam melihat kehidupan. Karena hanya dengan paradigma yang baik, maka cara kita memperlakukan sesama niscaya akan menjadi lebih baik.

Happy International Women’s Day 2017 – Let’s Love More and Judge Less

 

Irma Erinda is a hopeful enthusiast, A burst of energy, a mother and wife doing corporate HR working in alignment of her purpose of creating better Indonesian leaders. When not working, Irma enjoys posting crafty activity for her toddler in instagram as @mamamimaa, writing blogs on www.ceritadibaliklayar.com or plainly enjoying her weekly reflexology massage with her husband. This article first appeared on Linkedin

Wahai Pencari Kerja! Bantu Kami untuk Merekrut Anda!

Tulisan ini ditulis terus terang karena ke-geregetan saya dgn berapa banyak pencari kerja yang bertanya ke saya mengenai bagaimana menulis CV yang baik. Jadi saya tulis artikel ini dari sisi pandang lain dan ingin mengajak siapapun diluar sana untuk mencoba mengasah rasa apa sih yang dirasakan oleh rekruter dalam melihat CV para pencari kerja.

Banyak orang bertanya seberapa penting sih andil CV itu mencari kerja? Menurut pengalaman dan pendapat saya pribadi sebagai seorang yang masuk kategori pemberi kerja, sebenarnya CV itu tidak penting-penting amat. Buat saya yang penting itu adalah karakter si pencari kerja.

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di negara dimana Indonesia di thn 2030 akan masuk menjadi Top 10 negara penghasil lulusan perguruan tinggi paling banyak di dunia

Bandingkan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang jumlahnya sekitar >4200 dengan negara China yang hanya memiliki 2500 PT padahal jumlah penduduknya 4x lipat lebih banyak dari Indonesia. Namun, saya yakin hampir semua perusahaan setuju bahwa mencari tenaga kerja berkualitas di Indonesia itu sulit. Maka wajarlah jika CV saat ini (masih) merupakan metode utama untuk perusahaan dalam mencari tahu siapa yang akan mereka undang ke tahap selanjutnya. 

Apakah dengan memiliki CV yang baik saja maka pekerjaan akan mudah didapat ? tentu tidak. CV hanya akan memberikan kita kesempatan untuk mendapatkan interview, dan hasil interview lah yang akan menghasilkan tawaran pekerjaan. Oleh karena itu, buat semua orang yang sedang mencari kerja – kapan terakhir kali anda me-refresh CV dan memastikan bahwa CV tersebut sudah mencerminkan kompetensi anda yang sebenarnya?

Hanya karena seseorang sudah memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun dan kelihatannya sangat hebat bukan berarti pertanda bahwa orang tersebut mampu membuat CV yang baik juga. Sering sekali saya menjumpai orang yang setelah berbincang kualitasnya jauh lebih baik dari CV mereka. Sayang sekali jika kesempatan untuk masuk (atau pindah) kerja itu hilang jika dikarenakan ketidak mampuan kita untuk menjual diri dan kompetensi lewat sesuatu yang bernama CV.

Ada studi yang dilakukan menyatakan bahwa rekruter hanya menghabiskan sekitar 6 detik untuk melihat 1 CV. Kurang lebih saya setuju akan penelitian tersebut, saya sendiri merasa bahwa keputusan saya akan tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai profil seorang kandidat diputuskan hanya dalam jangka waktu sekejap. Jadi, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menyusun CV?

  • Bantu kami untuk secara cepat mengenali siapa anda. 

Berikan informasi dasar seperti nama, notelp, email, alamat, pendidikan terakhir, pengalaman kerja, penghargaan/pelatihan yang relevan dengan jelas, singkat, dan padat. Jika kami melihat bahwa dari hal dasar tersebut sepertinya relevan dengan apa yang kami cari – maka kemungkinan besar kami akan meluangkan waktu lebih untuk melihat CV anda secara lebih detail.

Jika anda hanya punya kesempatan 6 detik untuk CV anda dilihat oleh rekruter, gunakan hanya 1 halaman dan hilangkan informasi yang tidak relevan, informasi yang bisa didapat dengan logika, atau informasi yang menimbulkan bias (kecuali memang disebutkan dari awal bahwa hal tersebut memang diminta untuk dicantumkan) seperti tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, agama, status kesehatan, pendidikan TK/SD/SMP, berbagai macam training yang sifatnya anda hanya peserta,dll. Gunakan nalar bagaimana setiap informasi tersebut bisa menjadi nilai tambah dari profil anda.

Jangan bertele-tele. Pergunakan bullet points, gunakan bold format, untuk memberikan tekanan pada hal di CV yang sekiranya bisa menjadi nilai jual anda.

Jadilah partner kami dengan menunjukan keseriusan anda dalam mencari kerja 

Tunjukan bahwa anda serius dalam mencari kerja dengan tidak melakukan kesalahan dasar seperti ada typo, salah sebut nama, jangan hanya kirim cold CV (mengirimkan CV ke email secara random tanpa ada kalimat pengantar di badang email). Seberapa besar usaha yang anda lakukan untuk cek dan ricek informasi yang ada di CV anda akan terlihat dari detail-detail tersebut. Namun tidak perlu terlalu berlebihan seperti menyertakan transkrip nilai, SKCK, tanda kelulusan yang menyebabkan email jadi berat (>200kb) atau jika di job fair menyertakan berbagai macam dokumen dalam map, pas foto 3×4 dan di print di kertas karton berwarna 80gr jika CV diberikan secara langsung kecuali hal tersebut memang diminta oleh sang pemberi kerja. Less is more.

 

  • Pastikan bahwa karakter yang ingin anda jual keluar dalam CV anda.

Perlakukan diri anda sebagai ‘merk’ yang hendak dijual. Tidak ada hal yang lebih menyebalkan bagi seorang rekruter daripada mendapatkan CV dari seorang pencari kerja yang ingin melamar untuk ‘lowongan apa saja yang ada di perusahaan anda’. Kesan yang kami dapatkan adalah bahwa anda menyuruh kami untuk melakukan PR menebak-nebak lowongan apa yang cocok untuk anda. Padahal andalah sang pencari kerja yang harusnya lebih tahu mengenai kompetensi apa yang bisa anda jual ke kami. Jika anda hendak melamar ke beberapa perusahaan yang berbeda dengan lowongan yang berbeda – milikilah beberapa versi CV dengan penekanan yang berbeda-beda dan pergunakan versi yang tepat untuk lowongan yang relevan.

Pastikan anda memperlihatkan CV anda ke beberapa orang untuk mendaptkan umpan balik (feedback) dalam mengevaluasi CV anda. Seringkali dengan memperlihatkan CV kita ke teman kita dan meminta umpan balik, kita mendapatkan masukan yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Masukan tersebut belum tentu benar dan harus kita terapkan, tapi paling tidak – orang lain akan lebih mudah untuk menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh mata kita yang sudah terlatih puluhan kali membaca CV yang sama. Sering saya temukan justru bahwa pencari kerja malu untuk memperlihatkan CV mereka. Malu untuk dikritik, malu untuk di-evaluasi. Kesampingkanlah rasa malu demi mendapatkan masukan agar kita selangkah lebih maju dibandingkan yang lain untuk mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan.

Jika memang sulit untuk meminta orang melihat CV kita, sekarang pun kita berada di jaman internet dimana banyak cara untuk melihat perbandingan cara menulis CV yang baik hanya dengan memasukkan kata kunci di Google. Semua itu tergantung pada ke-proaktifan kita dalam mencoba untuk memiliki CV yang lebih baik.

Bantu kami untuk merekrut anda!

Percayalah bahwa kami sebenarnya ingin sekali mencari orang yang tepat untuk dipekerjakan. Saya yakin ini adalah masalah semua rekruter yang ada di perusahaan manapun. Oleh karena itu, mari bersama kita tingkatkan kualitas dari CV agar semua pemberi kerja bisa lebih mudah untuk melihat diri dan potensi anda yang sebenarnya.

Anda memiliki pertanyaan atau pendapat yang berbeda ? berikan komentar dan umpan balik ya mengenai pendapat anda ttg artikel ini.

 

artikel ini sebelumnya pernah dimuat di Linkedin Pulse dan bisa dilihat di link berikut